[Opini] Mungkin Ini Waktunya Saya Meninggalkan PC Gaming

Old PC | Featured
Sebagai seseorang yang menghabiskan waktunya sehari-hari di internet menjelajahi berbagai situs dan komunitas video game, jujur saya cukup lelah dengan perdebatan-perdebatan antara pemilik console yang satu dengan yang lainnya, yang biasanya akan diperkeruh oleh sebuah kalimat pasaran, membosankan, dan menyebalkan yang berbunyi “PC MASTER RACE!!“. Sekedar informasi bagi kamu yang tidak tahu, kalimat “PC Master Race” merupakan istilah yang digunakan gamer PC untuk menghina para pemain console karena mereka menganggap pengalaman maksimal dalam sebuah game hanya bisa didapatkan di PC. Well, mereka tidak sepenuhnya salah sih, memang kebanyakan game baru akan mengeluarkan visual dan performa tercanggihnya jika dimainkan di PC, tapi apakah hal-hal tersebut saja yang perlu jadi pertimbangan dalam bermain game?

Sebelum berbicara lebih lanjut, mungkin saya harus menjelaskan bahwa saya bukanlah seorang yang anti dengan game PC. Saya menghabiskan puluhan jam setiap minggunya bermain di PC. Bahkan saya lebih sering bermain game di PC daripada di console dan handheld yang saya miliki. Tapi belakangan ini saya merasa semakin banyak hal yang mengurangi kenyamanan saya dalam bermain menggunakan PC, dan beberapa alasannya pun bisa dibilang cukup aneh.

Tadinya, saya masih tetap berpikir untuk mempertahankan argumen bahwa PC adalah tempat bermain game yang nyaman, karena dengan menggunakan PC saya bisa memainkan seluruh game saya dalam resolusi 1080p, angka yang sepertinya selalu dibangga-banggakan oleh para gamer yang mengagung-agungkan kualitas visual. Namun saat tengah menjajal Sleeping Dogs: Definitive Edition yang baru dirilis bulan ini, saya mencoba sesuatu hal baru. Hal yang saya coba adalah menurunkan resolusi game dari 1080p (1920×1080), menjadi 720p (1280×720), resolusi yang biasa ditemukan pada console tua seperti PS3 dan Xbox 360.

Begitu perubahan itu saya lakukan, pengalaman bermain saya langsung berubah drastis. Game yang tadinya berjalan dengan frame rate antara 20 – 30 fps, langsung berjalan dengan rata-rata 40 fps. Tapi bagaimana dengan grafisnya? Jika saya memperhatikan dengan teliti, jelas ada penurunan kualitas yang cukup signifikan, tapi itu hanya terlihat jika saya mencoba mengeceknya dengan teliti. Saat saya memainkan game dengan serius, kurangnya resolusi tidaklah menjadi hal yang signifikan di mata saya.

Watch Dogs | Screenshot (1)
Kebanyakan gamer PC yang membaca hal ini mungkin akan langsung berpikir, “itu mah salah lo beli PC kagak kuat buat maen game resolusi tinggi“. Hal itu mungkin benar, tapi uang yang saya keluarkan untuk merakit PC ini, bisa dibilang memiliki nilai yang sama dengan uang untuk membeli console baru seperti PlayStation 4. Walaupun memang, untuk kasus PC tadi, saya merakitnya sedikit demi sedikit. Tapi tetap saja setiap saya mengganti komponen baru, sejumlah uang harus dikorbankan, bukan?

Hal ini semakin diperparah dengan banyaknya kualitas porting game baru yang sepertinya dibuat setengah-setengah oleh sang developer. Mulai dari The Evil Within dan Watch Dogs yang banyak sekali mendapatkan komplain dari gamer yang memainkannya di PC namun sedikit komplain dari gamer console, Final Fantasy XIII yang meskipun telah berusia 5 tahun tetap saja memiliki versi PC yang buruk, serta baru-baru ini adalah Assassin’s Creed Unity yang meminta spesifikasi minimum tidak masuk akal.

Buat apa kita harus menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk game yang belum tentu bisa berjalan lancar kita mainkan. Apalagi ketidaklancaran ini disebabkan oleh developer yang tidak melakukan porting dengan benar. Bayangkan saja, sudah meminta standar hardware tinggi, versi PC dari banyak game seperti Final Fantasy XIII dan Assassin’s Creed Unity, juga meminta tempat yang sangat besar di hard disk. Kedua game itu meminta lebih dari 50 GB ruang di hard disk komputer, padahal versi console bisa dimuat dengan sekeping blu-ray yang ukurannya kurang lebih 50 GB juga.
 
Final Fantasy XIII | Screenshot (1)
Banyak juga orang yang akan mengatakan bahwa mereka memilih bermain di PC karena multi-fungsi dan bisa digunakan untuk bekerja juga. Hal ini sebenarnya tidak berlaku lagi sekarang, mengingat seluruh console modern sudah memiliki dukungan multimedia yang cukup mumpuni. Selain itu, kalau memang mau menggunakan PC untuk bekerja, saya rasa melengkapi diri dengan PC berspesifikasi seadanya juga sudah cukup untuk hal itu. Sisa uangnya bisa untuk kebutuhan gaming lainnya.

Sebenarnya masih ada beberapa alasan lain kenapa saya semakin lama semakin ingin meninggalkan dunia game PC. Sebut saja seperti posisi nyaman ketika bermain yang sulit didapatkan, sampai kepraktisan menyimpan hardware di rumah. Tapi alasan-alasan lain itu mungkin hanya bisa berlaku untuk saya pribadi serta sedikit orang lainnya.
 
The Elder Scrolls V: Skyrim | Screenshot
Meskipun begitu, bermain game di PC juga masih memiliki pesonanya sendiri. Hal paling pertama yang terbesit di pikiran saya tentunya adalah harga-harga game yang ditawarkan. PlayStation mungkin punya gratisan bulanan melalui PS Plus, tapi ini tentu tidak akan bisa mengalahkan Steam Sale yang menguras dompet atau Humble Bundle yang bisa memenuhi koleksi game kamu. Selain itu adanya komunitas modding yang aktif di beberapa game juga membuat bermain game di PC lebih spesial dibandingkan memainkan beberapa game tertentu di console.

Tapi ini semua tentunya kembali ke pribadi masing-masing. Jika kamu memang lebih suka bermain game tanpa perlu khawatir game yang bersangkutan tidak kuat jalan, dan kamu bisa memainkannya sambil santai di sofa, console jelas merupakan pilihan tepat untuk kamu. Tapi kalau kamu memang hobi mengutak-atik hardware serta dompet, sambil duduk dengan posisi dekat monitor, atau sambil mencoba-coba mod buatan komunitas fan yang baru, PC jelas merupakan pilihan yang paling tepat.
Tapi yang terpenting, apapun jenis mesinnya, yang penting video game mainannya.


Sumber: Mohammad Fahmi, TechInAsia
Share:

0 comments:

Post a Comment